Menikmati Thaif dari Kereta Gantung: Sejuknya “Puncak Arab” & Jejak Dakwah Nabi ﷺ

Bayangkan Arab Saudi dengan udara sejuk, lembah hijau, dan kebun mawar—itulah Thaif. Berada di pegunungan Sarawat pada ketinggian sekitar 1.800–1.900 mdpl, kota ini sering dijuluki “Puncaknya Arab”. Suhunya lebih ramah dibanding kota-kota dataran rendah; karena itu Thaif jadi pelarian favorit saat musim panas, bahkan kalangan kerajaan pun memiliki rumah peristirahatan di sini. Dari Mekkah, Thaif bisa ditempuh ±1,5–2 jam via jalan berkelok Al-Hada yang fotogenik.

Selain iklimnya, Thaif juga terkenal sebagai lumbung pertanian: anggur, delima, buah ara, madu, dan terutama Damask rose—bahan minyak wangi yang tersohor. Buat jamaah umroh Solo, mampir ke Thaif setelah umrah itu rasanya seperti “rehat napas”: tetap syar’i, tapi ringan dan menyenangkan.

Jamaah An Namiroh Grup - Rihlah Saidah- Menikmati Pemandangan Indah dari Kereta Gantung

Ikon Wajib: Al-Hada Cable Car

Di punggung pegunungan Al-Hada, ada pengalaman yang selalu jadi bahan cerita pulang: kereta gantung (teleferik) sepanjang >4 km—terpanjang salah satu di Timur Tengah. Kabin meluncur ±20 menit menyusuri jurang, lereng batu kemerahan, dan perkampungan di kejauhan. Jalur ini menghubungkan puncak Al-Hada dengan kawasan resor & taman rekreasi di bawah (sering dikenal sebagai Al-Kar Tourist Village).

  • Tiket: umumnya di kisaran SAR 80–100 per orang (harga bisa berubah sesuai musim/operasional di lokasi).
  • Atraksi tambahan: toboggan ride (seluncur rel) yang seru tapi tetap family-friendly—kisaran SAR 40–50.
  • Waktu terbaik: pagi atau sore menjelang matahari terbenam—cahaya lembut, kabut tipis, foto lebih cakep.
    Catatan: tarif dan jam buka bersifat dinamis mengikuti musim/libur akhir pekan. Saat high season (musim panas/libur Id), antrean bisa padat.

Thaif yang “Hijau”

Kontras dengan bayangan gurun, jalur menuju Thaif dihiasi kebun kurma, pepohonan besar, dan banyak taman kota. Banyak rumah dan vila menanam pohon rindang di pekarangan; suasananya bikin kangen—mirip Puncak-Bogor atau Tawangmangu versi Jazirah Arab. Di pasar lokal, selain buah segar, kamu bisa mencari produk mawar Thaif (air mawar, parfum minyak mawar)—oleh-oleh favorit yang wangi dan elegan.

Penutup

Di balik keindahannya, Thaif menyimpan episode yang menyentuh dalam dakwah Nabi ﷺ. Setelah ‘Aam al-Huzn (Tahun Duka)—wafatnya Khadijah r.a. (619 M) dan Abu Thalib (±620 M)—Rasulullah ﷺ menuju Thaif untuk berdakwah dan mencari perlindungan. Sambutan penduduk kala itu sangat keras; beliau dilempari batu hingga terluka, sementara Zaid bin Haritsah yang melindungi juga terkena lemparan. Rasulullah ﷺ berlindung di kebun milik keluarga Rabi’ah (riwayat menyebut ‘Utbah & Syaibah), lalu berdoa penuh pasrah. Ketika Malaikat Gunung menawarkan untuk membalikkan gunung menghukum Thaif, Nabi ﷺ justru memohonkan hidayah untuk keturunan mereka.
Pelajarannya sederhana tapi dalam: sabar, memaafkan, dan berharap kebaikan—bahkan untuk yang menyakiti.

Buat jamaah, momen di Thaif jadi pengingat bahwa rekreasi pasca-umroh pun bisa dirangkai dengan tadabbur: menikmati ciptaan Allah, sekaligus meneladani akhlak Nabi ﷺ.

📍 Untuk informasi paket umroh Solo dengan program ziarah ke Madinah & situs bersejarah Islam, hubungi tim An Namiroh Travelindo

– Umroh Amanah, Pasti Berangkat.